Menu Utama
Jamur Tiram Depan
Jamur Tiram Produk
Jamur Tiram Daftar Harga
Jamur Tiram & Olahannya
Menu Lainnya
Kerjasama & investasi
Pelatihan Jamur Tiram
Jamur Tiram News
Jamur Tiram Galery
Jamur Tiram Kontak
Hubungi Kami

 

 0812 8840 621

0813 1620 379


Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday145
mod_vvisit_counterYesterday210
mod_vvisit_counterThis week1740
mod_vvisit_counterThis month4765
mod_vvisit_counterAll102660

Recommended service:
online dating alert signals
Budidaya Jamur Tiram Bermodal 900 Ribu, Kini Beromzet Jutaan Rupiah
Selasa, 30 Maret 2010 | 09:41 WIB
 
 

Pada mulanya modal awal bisnis budidaya jamur tiram, hanya patungan. Dalam sebulan omzetnya langsung melejit jutaan.

Oleh : ZAINUL ARIFIN

 

Takari Bambang Israwan dan kawan-kawan kini memetik sukses. Bermodal patungan dengan teman-temannya yang hanya membutuhkan modal sebesar Rp 900 ribu, kini usaha pembuatan bag log jamur tiram milik Takari Bambang Israwan dan saudaranya meningkat pesat. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta.

Takari Bambang Israwan dan Agus Mulyadi, warga Dusun Mojorejo RT 11/ RW 03 Desa Pendem Kecamatan Junrejo ini benar-benar memulai bisnis pembuatan bag log dari nol.

Hanya sekali mengikuti pelatihan singkat tentang pertanian jamur tiram, Takari langsung menerapkan hasil pelatihannya pada September 2007 silam.

Hasil pelatihan itu langsung diterapkan bersama rekan-rekan satu dusunnya. Bersama 8 orang kawannya, Takari membeli bibit jamur tiram di seorang pengusaha bibit jamur di Pandaan dengan modal awal hanya sebesar Rp 900 ribu.

Dari modal awal tersebut, didapatkan bibit jamur sebanyak 800 bag log, yang didapat dari salah seorang fasilitator pelatihan yang pernah diikuti oleh Takari. Bibit ini kemudian ditempatkan di sebuah kamar berukuran 3x4 meter yang berada di belakang rumah. Bibit ini tumbuh dan berkembang dan selama 3 bulan bisa dipanen sebanyak 4 kali. Bibit jamur ini kemudian dikembangkan untuk disimpan dalam bag log.

”Saat awal panen, kami bahkan dikunjungi oleh Bob Sadino pengusaha dari Jakarta. Saat itu Bob berkata pada saya, jangan pernah berharap bisa berkembang bila hanya mengandalkan bibit itu saja. Kata-kata dari Bob Sadino inilah yang melecut saya untuk mengembangkan bisnis ini,” urai Takari.

Dari bibit jamur setelah dipanen ini, kemudian dijadikan untuk pembuatan bag log yang berisi bibit jamur. Selain itu, kelompok usaha ini juga mengambil keputusan untuk tidak menjual bibit jamur, melainkan menjual bag log diambil oleh Takari.

”Mereka yang membeli bibit ke saya, bisa menjual jamur tiram hasil panennya kepada saya bila tidak mampu memasarkan,” jelasnya.

Para pembeli yang datang ke kelompok usaha Takari dan kawan-kawan ini cukup banyak.  Selain masyarakat sekitar Batu dan Malang Raya, ada juga luar kota lainnya yang datang.

Pada pertengahan 2008, kelompok ini mampu mempekerjakan sebanyak 11 orang warga sekitar untuk proses pembuatan bag log ini. Dalam perkembangannya, 9 orang kelompok ini hanya bertahan 2 orang saja.

Yakni Takari dan Agus Mulyadi yang masih paman dari Takari sendiri. Dua orang ini kemudian membesarkan usaha pembuatan home industry bag log jamur tiram ini. Untuk bahan dasar, yakni serbuk gergaji didapatkan dari wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang.

 

Sumber: Surabayapost

 
< Prev   Next >